Langsung ke konten utama

Kisah Yahudi Yang Menguji Rasulullah Dengan Beberapa Pertanyaan


Kisah Yahudi Yang Menguji Rasulullah Dengan Beberapa Pertanyaan

Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ali al-Hulwani telah menceritakan kepada kami Abu Taubah, yaitu ar-Rabi' bin Nafi' telah menceritakan kepada kami Mua'wiyah, yaitu Ibnu Sallam dari Zaid, yaitu saudaranya bahwa dia mendengar Abu Sallam berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Asma' ar-Rahabi bahwa Tsauban,

budak Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bercerita kepadanya, dia berkata; ‘Aku pernah berdiri di dekat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, tiba-tiba seorang rahib Yahudi datang dan berkata; 'Assalamu’alaika ya Muhammad.’ Akupun mendorongnya hingga dia hampir terjungkal. Dia bertanya; 'Kenapa kamu mendorongku?’ Aku menjawab; ‘Tidak bisakah kamu memanggilnya dengan panggilan ‘Rasulullah’?’ Rahib Yahudi menjawab; ‘Cukuplah kami memanggilnya dengan nama yang diberikan keluarganya.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; “Namaku ialah Muhammad yaitu nama yang diberikan keluargaku.”

Yahudi berkata; 'Aku datang untuk bertanya beberapa pertanyaan kepadamu.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam balik bertanya: “Adakah sesuatu yang bermanfaat bagimu jika aku berbicara denganmu.' Dia menjawab; ‘Aku akan mendengarkan dengan kedua telingaku ini.’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membuat garis-garis ke tanah dengan tongkat yang ada di tangan beliau seraya berkata: “Bertanyalah!”

Yahudi berkata; '(Hari ketika bumi diganti dengan bumi dan langit yang lain…) (QS. Ibrahim 48), kala itu manusia berada di mana?’ Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab; “Mereka berada dalam kegelapan sebelum shirath (jembatan).” Dia bertanya; 'Lalu siapakah orang yang paling pertama diizinkan menyeberangi jembatan itu?’ Beliau menjawab; “Orang-orang fakir dari kaum Muhajirin.” Yahudi itu bertanya lagi; 'Apa hidangan spesial bagi mereka ketika memasuki surga?’ Beliau menjawab; “Organ yang paling bagus dari hati ikan hiu.” Dia bertanya lagi; 'Setelah itu hidangan apa yang disuguhkan untuk mereka?’ Beliau menjawab; “Mereka disembelihkan sapi surga yang dimakan dari sisi-sisinya.” Dia bertanya lagi; 'Apa minuman mereka?’ Beliau menjawab; “Minuman yang diambil dari mata air yang bernama Salsabila.” Dia berkata; 'Kamu benar, aku juga datang untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang jawabannya tidak diketahui seorang pun di muka bumi ini kecuali seorang Nabi atau seorang atau dua orang saja.’ Beliau bersabda: “Apakah akan memberikan manfaat kepadamu jika aku menjawabnya?” Dia menjawab; ‘Aku akan mendengarkannya dengan kedua telingaku.’ Dia berkata; 'Aku datang untuk bertanya soal anak.’ Beliau menjawab; “Air mani seorang lelaki berwarna putih dan air mani seorang wanita berwarna kuning, jika keduanya menyatu dan air mani laki-laki lebih dominan atas air mani wanita, maka janin itu akan berkelamin laki-laki dengan izin Allah. Namun jika air mani wanita lebih dominan atas air mani laki-laki maka janin itu akan berkelamin wanita dengan izin Allah.” Yahudi itu berkata; 'Kamu benar, dan kamu memang benar-benar seorang Nabi.’ Orang Yahudi itupun beranjak pergi. Setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku pernah ditanya seseorang tentang pertanyaan yang sama, dan aku sama sekali tidak tahu jawabannya sampai Allah memberitahukannya kepadaku.”

Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi memberitahukan hadits ini kepadaku, Yahya bin Hassan mengkabarkan kepada kami, Mu'awiyah bin Sallam menceritakan seperti itu kepada kami dengan sanad yang sama, tapi bedanya; ia mengatakan: aku pernah duduk di dekat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam. Dan perbedaan lafadz; "Zaidatu kabidin nun" (hati ikan hiu), "adzkara" dan "ânatsa" (dengan bentuk mufrad/tunggal), dan bukan "adzkarâ" dan "ânatsâ" (dengan bentuk mutsanna).

HR. Muslim

√√  Nasehat Islam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Larangan Mensholatkan Orang Munafik

"Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia. anak laki-lakinya -yaitu Abdulah bin Abdullah- datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya memohon kepada beIiau agar sudi memberikan baju beliau kepada Abdullah untuk kain kafan ayahnya, Abdullah bin Ubay bin Salul. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan bajunya kepada Abdullah. setelah itu, Abdullah juga memohon Rasulullah agar beliau berkenan menshalati jenazah ayahnya. Kemudian Rasulullah pun bersiap-siap untuk menshalati jenazah Abdullah bin Ubay, hingga akhirnya Umar berdiri dan menarik baju Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan Allah telah melarang untuk menshalatinya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan pilihan kepadaku." Lalu beliau membacakan ayat yang berbunyi; "Kamu memohonkan ampun bagi orang-orang mu...

The Mandatory Bathing Method for the Right Woman According to Islam

In Islamic teachings, to carry out worship which is part of the pillars of Islam and its nature habluminnaullah (dealing directly with Allah, in the form of rituals) it is obligatory to be pure and clean. Not just clean and holy when carrying out ritual worship, more than that Islamic teachings do indeed order the people to always keep themselves clean. As in a hadith it is stated that cleanliness is part of faith. This, as stated in the Koran: "O ye who believe, if you are going to pray, then wash your face and your hands up to your elbows, and sweep your head and (wash) your feet up to both ankles, and if you junub then take a bath, and if you are sick or deep traveling or returning from a toilet or touching a woman, then you do not get water, then mix with good soil (clean); brush your face and your hand with the land. God does not want to trouble you, but He wants to cleanse you and perfect His blessings for you, so that you will be grateful. "(QS: Al-Maidah: 6) Prohibiti...

The Law of Eating Food for the Rest of Others in Islam

On the previous occasion, we have briefly reviewed some of the ways of eating the Prophet, one of which is to spend the remaining food on a plate or tray where you eat. Spending the rest of the food actually has its own philosophy of appreciating the blessings given by Allah SWT. Islam forbids his people from wasting the sustenance obtained. And therefore, as Muslims we must respect every drop of water and every seed of food that is available by not wasting the food or drink and using it for a positive purpose. The rewards that we give to food or drink are actually a form of our gratitude for God's favor. Therefore in one of the narrations of the Prophet sallallaahu ahu alaihi wasallam always licked the leftover food stuck to the fingers of his hand. From Jabir bin ‘Abdillah he said that the Prophet sallallaahu‘ alaihi wasallam said, "Don't sweep his hand with a napkin before he licks his finger. Because he doesn't know which food brings blessings. "(Narrated by M...